- Bapak Kerja Remote
- Posts
- Work-Life Balance; Sepakat untuk Tidak Sepakat
Work-Life Balance; Sepakat untuk Tidak Sepakat
Work-life balance, mitos?
Sebelum saya dirujak netizen karena mempertanyakan keabsahan kultus work-life balance, saya pernah mengejar work-life balance. Tapi sekarang perspektif saya terhadap work-life balance berubah.
Work-life balance mulai muncul di era 70–80an di benua Eropa & Amerika. Entah bagaimana tentang Asia yang berada jauh di timur kedua benua tersebut. Saya pribadi mulai terpapar istilah work-life balance mungkin di circa 2018. Konsepnya yang mengedepankan titik keseimbangan antara aspek kehidupan dan pekerjaan kontan membuat saya mengamini work-life balance.
Kala itu, di kepala saya hanya menggarisbawahi satu hal, “Kerja jangan mengganggu kehidupan personal, dan sebaliknya.” Implementasinya, tentu saja tidak jauh dari pembagian jam kerja dan jam menikmati hidup. Kerja 9–5, sisanya untuk menikmati hidup. Karena, buat apa kerja kalau nggak punya waktu menikmati hidup, kan? Begitu kira-kira pikiran saya kala itu, di umur 25.
Tapi, makin ke sini, ada yang mengganggu pemahaman saya soal work-life balance. Apa variabel untuk work & life? Apakah semata-mata hanya soal jam kerja? Bagaimana soal pendapatan? Atau lingkungan kerja yang sehat dan tidak traumatis? Apalagi saat saya mulai kerja dari rumah. Apakah kerja dari rumah lantas memudahkan tercapainya work life balance? Bagaimana kalau kantornya toxic? Apakah tetap bisa mencapai work-life balance?
Pertanyaan ini terus saya bawa dan sesekali muncul ke permukaan tiap kali saya melihat konten orang yang membahas hal ini. Sampai akhirnya saya sampai di titik pencerahan yang diraih secara natural karena bertambahnya usia (re: makin tua).
Sekarang, bicara soal jam kerja, saya sungguh jauh dari konsep work-life balance. Apa itu kerja 9–5? Adanya 24/7. Karena selain kerja full-time, saya juga ada kerjaan freelance dan sekarang membesarkan akun bapakkerjaremote. Tapi, sekarang saya justru lebih bisa menikmati pekerjaan dan hidup, meski jamnya saling tumpang tindih. Kok bisa?
Ternyata variabel untuk memaknai work-life balance itu luas sekali. Bisa soal gaji, jam kerja, lingkungan kerja, dll. Buat saya, meski untuk jam kerja sungguh mirip sistem kerja rodi, tapi saya senang. Karena pekerjaan saya dan kehidupan saya selaras.
Saya sendiri yang memilih jam kerja ini, karena saya tahu income harus terus ditingkatkan untuk bisa mencapai konsep hidup yang saya inginkan. Rasa lelah saat kerja tanpa mengenal tanggal merah, bisa hilang ketika melihat capaian di hidup yang pelan-pelan mulai terpenuhi.
Di sini lah saya rasa konsep work-life balance bersifat sangat subjektif. Apa yang menjadi paham saya, pasti berbeda dengan paham orang lain. Orang akan menakar konsep work-life balance dengan takarannya masing-masing. Dan itu tak jadi masalah.
Ada orang yang suka makanan pedas, ada yang nggak suka.
Ada orang yang menikmati bekerja full-time plus freelance, ada yang suka dengan kerja full-time saja. Nggak ada yang salah.
Jadi, mari sepakat untuk tidak sepakat tentang konsep work-life balance.
Sepakat bahwa mustahil untuk bisa menyepakati satu standar work-life balance untuk semua orang.