Tips Menjawab Pertanyaan “Kerja Apa, Kok Di Rumah Terus?”

Tetangga bertanya, bapak menjawab.Keluarga bertanya, bapak menjawab.

Bagi yang pernah merasakan kerja dari rumah, pasti pernah ketemu dengan pertanyaan ini, paling tidak sekali seumur hidup.

Bagi orang awam, bekerja = ke kantor. Jadi, di rumah = nggak kerja. Maka wajar kalau orang banyak yang bingung ketika melihat saya di usia kepala 3 ini kok di rumah terus. Nampaknya saya ini equivalent dengan pengangguran di mata khalayak.

Saya udah kebal dengan pertanyaan macam ini, meski di awal rasanya lumayan lelah dan jengah untuk menjawabnya. Pasalnya, seringkali meski sudah diberikan jawaban, ternyata feedback berikutnya cukup mem-bagong-kan.

Yang paling sering sih si penanya tetap nggak paham dengan pekerjaan saya. Tapi nggakpapa, nggak masalah. Tipe feedback yang menyebalkan adalah yang berikutnya, penanya yang kemudian membandingkan dengan orang lain. “Oh, kirain nggak kerja. Habis di rumah aja, nggak kayak si “X” kerja di bank. Kerja di rumah gini ada uangnya?”

Kurang lebih begitu, meski variasinya bisa beragam. Yang jelas, dulu saya lumayan sering tiba-tiba panas kupingnya gara-gara kalimat semacam itu. Tapi kini sudah tidak, nampaknya kuping saya sudah beradaptasi secara patologi untuk tetap dingin menerima tanggapan absurd tentang kerjaan saya.

Ada dua cara yang bisa dipakai untuk menjawab pertanyaan, “Kerjanya apa? Kok cuma di rumah?”

Jawaban Serius

Kalau pas sedang sabar dan ada tenaga, saya akan jelaskan sedetail mungkin tentang kerjaan saya. Bahwa saya ini kerja di perusahaan apa, sebagai apa. Perkara nanti penanya ngerti apa tidak, itu sudah bukan masalah saya. Yang penting, saya sudah menuntaskan porsi untuk menjelaskan apa adanya.

Kalau ada pertanyaan lanjutan, selama masih ada kadar sabar dan tenaga, pasti saya layani dengan penuh senyum :)

Meski rata-rata, terlihat jelas ekspresi bingung penanya ketika saya jelaskan pekerjaan saya.

Jawaban Iseng

Tapi ya namanya manusia, kadang pas mood jelek, lagi capek, hectic atau murni emang lagi pengen iseng aja. Di mode ini, jawaban saya biasanya nyeleneh. Alias tidak sesuai konteks, yang penting terjawab. Ibarat bunyi knalpot di jalan yang sedang padat-padatnya, jawaban saya tidak bisa dikategorikan sebagai informasi, tapi lebih ke bunyi. Bisa didengar, tapi ketika dicerna, nihil makna. Pertanyaan, “Kerjanya apa kok cuma di rumah?” akan saya jawab dengan jawaban absurd macam ini:

  • “Nggak kerja kok, cuma nganggur aja ngabisin warisan.”

  • “Oh ini cuma jual beli senjata tajam online.”

  • “Saya pelihara pesugihan, makanya di rumah aja.”

  • “Kerja? Apa itu kerja? Emang manusia butuh kerja?”

  • “Uang buat hidup udah cukup dari bunga deposito nih.”

Tentunya jawaban ini saya lontarkan dengan vibes jenaka, ya. Sisanya menyesuaikan respon penanya setelah mendengar jawaban saya. Biasanya, mereka nggak bakal percaya, sih. Kalau sudah begini tinggal saya beri jawaban yang sesungguhnya. Tapi paling tidak, mood-nya udah berubah jadi lebih cair dan penuh canda. Jadi, saya yang menjelaskan juga nggak bad mood, yang bertanya pun lebih cair.

Tiap manusia sudah punya asumsi akan suatu hal, termasuk tentang apa pekerjaan saya. Jadi untuk menghilangkan asumsi itu, saya lebih memilih dengan cara bercanda. Sekalian saya patahkan asumsi mereka dengan jawaban absurd, baru begitu sudah cair, saya jelaskan informasi yang benar. Metode ini cukup efektif untuk menjawab pertanyaan “kerja apa” untuk saya yang terlihat nganggur di rumah.

Risikonya paling, tiba-tiba dianggap anak orang kaya, kalau si penanya beneran percaya saya di rumah cuma menghabiskan warisan. Padahal, boro-boro warisan, di awal menikah moto hidup saya saja langsung berubah mirip SPBU, “Mulai dari nol ya, kakak (rekeningnya)”

Salam,
Bapak Kerja Remote

Siapa tahu kalian berencana bergabung ke golongan saya; yang sering ditanyain tetangga karena kayak pengangguran, boleh coba cek resources yang ada di sini.