Tip Melatih Bahasa Inggris untuk Kerja Remote

Segelintir tip tentang bahasa Inggris dari orang yang pernah ditolak lamaran kerjanya karena kemampuan bahasa Inggrisnya.

Iya, kalian membacanya dengan akurat dan tepat. Saya pernah ditolak oleh satu perusahaan karena skill bahasa Inggris saya yang semenjana-katanya. Padahal saya sudah sampai di fase interview dengan user. Tapi, sekarang saya bekerja di salah satu company yang full berbahasa Inggris sudah hampir 2 tahun. Dan sehari-hari, saya bisa berbincang via online meeting dengan orang Malaysia, Singapura, Australia setidaknya di dalam 3 meeting berbeda. Jadi, rasanya tulisan ini cukup valid untuk saya tulis.

Buat gambaran, saya juga bukan orang yang bahasa Inggrisnya cas cis cus amat. Sama seperti orang kebanyakan, saya cuma belajar bahasa Inggris dari sekolah, sedikit les, dan main game! Iya, main game! Tentu ini membuat saya menjadi pribadi yang bisa paham bahasa Inggris, bisa menulis dalam bahasa Inggris, tapi agak tulalit kalau harus bicara dalam bahasa Inggris.

Di sini masalah muncul. Tulalit kalau harus bicara dalam bahasa Inggris. Padahal, saat proses melamar kerja remote pasti ada fase interview, yang pasti harus dilakukan dengan cara berbicara, kan? Sejauh ini saya belum pernah menemui proses interview yang dilakukan melalui chat. Apalagi interviewer-nya membuka sesi dengan mengirimkan pesan, “P! P! P! Info!”

Sebelum masuk ke menu utama, tip belajar bahasa Inggris, mari pahami dulu bagaimana sebetulnya otak canggih kita bekerja dalam memproses bahasa. Saya bukan ahli otak atau ahli bahasa, tapi berbekal Google, saya bisa mengakses beberapa informasi yang cukup relevan. Mohon koreksinya jika informasi yang tercantum dirasa kurang tepat.

Percaya atau tidak, otak punya kemampuan luar biasa cepat dalam memproses bahasa. Dilansir dari Google (tentu saja), otak manusia bisa memproses bahasa dalam hitungan 600 milliseconds atau 0,6 detik. Itu lebih cepat dibanding merosotnya prestasi Manchester United selepas ditinggal Sir Alex Ferguson. Ehem ~

Jadi, sebetulnya otak kita tidak ada masalah dalam memproses bahasa. Tapi bagaimana jika yang diproses bukan bahasa ibu kita? Bagaimana di saat kita, orang Indonesia, harus memproses bahasa asing?

Dikutip dari artikel di BBC, Tamar Gollan, profesor yang mempelajari kemampuan multi-bahasa, bilang bahwa sering kali orang yang berbicara lebih dari 1 bahasa cenderung untuk berbicara lebih lambat. Artinya, memang ada latency yang membuat otak jadi lebih lambat dalam memproses bahasa ketika kita berhadapan dengan bahasa asing.

Mari berlanjut ke tip untuk mempertajam kemampuan berbahasa Inggris.

Dari apa yang saya pelajari, cuma ada satu metode yang terbukti ampuh, yakni latihan. “Yah, kalau tip yang dikasih cuma latihan, percuma dong udah baca sejauh ini!”, mungkin itu yang kalian bayangkan ketika mencapai kalimat ini. Tenang, ada informasi yang lebih spefisik lagi.

Latihan, terutama untuk konteks berbicara dalam bahasa Inggris. Masalah utama dalam bicara bahasa Inggris adalah kita butuh effort yang lebih untuk; menerima informasi dari lawan bicara, mengartikannya ke bahasa Indonesia, merancang jawaban dalam bahasa Indonesia, mengartikannya ke bahasa Inggris, baru bicara. Dan, proses ini harus berlangsung dengan waktu yang sangat cepat. Namanya juga lagi bicara, kan? Kalau prosesnya makan waktu tiga hari, itu namanya surat-menyurat.

Hal ini yang sering membuat tiba-tiba lidah kita kelu, tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Atau, tiba-tiba mulut kita typo. Tulisan, kalau typo masih bisa dikoreksi dulu, kalau dalam konteks bahasa verbal, agak sulit untuk dilakukan.

Latih speaking 15 menit sehari
Kita sampai di menu utama dari tulisan ini. Sederhana, latih speaking skill setidaknya 15 menit setiap hari. Supaya otak terbiasa dengan beban yang harus dilalui untuk bicara dalam bahasa Inggris. Saya paham, pasti akan langsung ada argumen, “Mau bicara sama siapa?”

Kalian bisa coba cari komunitas yang memang fokus ke pelatihan berbahasa Inggris. Di kota saya, dulu ada English Club yang diinisiasi Akademi Berbagi, tapi entah sekarang bagaimana eksistensinya. Saya rasa, di kota lain pasti ada komunitas semacam ini.

Kalau tidak menemukan komunitas atau lawan bicara, cukup bicara sendiri dan rekam apa yang kalian ucapkan. Kenapa hal ini bisa membantu kalian? Setidaknya kalian bisa melatih kemampuan otak untuk terus memproses bahasa asing tanpa jeda. Mulai dari 15 menit dulu, lama-lama bisa kalian perpanjang durasinya.

Bicarakan soal apa pun. Bisa uneg-uneg, memperkenalkan diri, soal impian, apa pun! Intinya kalian membiasakan otak dan mulut untuk bisa memproses bahasa Inggris secepat mungkin dengan endurance yang prima. Nggak ada gunanya kalian bisa bicara bahasa Inggris tapi hanya bertahan dalam satu tarikan nafas. Interview setidaknya akan berlangsung 20–60 menit.

Demikian tip berlatih bahasa Inggris dari orang yang pernah ditolak lamaran kerjanya karena skill bahasa Inggrisnya semenjana. Semoga bisa membantu kalian menjadi lebih casciscus dalam berbahasa Inggris.

Oh iya, jangan masalahkan soal logat Indonesia yang pasti akan tetap kental terasa di bahasa Inggris kalian. Itu memang karakter orang Indonesia. Nggak perlu muluk-muluk ingin punya logat British macam Thomas Shelby di Peaky BlindersCillian Murphy itu berdarah Irish, bukan orang Ciputat, Solo atau Surabaya seperti kita yang ada di Indonesia. Rasanya kalau Thomas Shelby diperankan oleh orang Surabaya, maka kata-kata “Jancuk”, pasti sudah mendunia!

Bagi yang tertarik dengan E-Book soal mencari kerja remote, saat ini Bapak Kerja Remote punya E-Book yang mungkin cocok buat kalian!

Harganya berapa? 149K! Tapi, khusus untuk subscriber newsletter ini, bisa dapatkan diskon 49K dengan menggunakan code ini EBOOK49

EBOOK ini cakupannya cukup banyak, dan di bagian akhir EBOOK ada resources yang bisa kalian gunakan juga.

Life-time akses yah. Kalau ada update versi, kalian yang sudah beli, nggak perlu purchase lagi. Otomatis kebagian.

Bagi yang mau check out bisa langsung ke sini yah https://bapakkerjaremote.myr.id/ebook/remote-work-hunt-guidance-ebook