Self Accountability

Bertanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri

Subjektivitas manusia membuat setiap individu selalu bias dalam menilai dirinya sendiri; bisa terlalu positif atau terlalu negatif. Ada yang merasa dirinya terlalu baik; menjadikannya sedikit terlalu percaya diri. Di kutub sebaliknya, ada yang merasa dirinya terlalu buruk; berujung pada rendah diri.

Oh iya, hal ini saya rasa adalah sifat dasar manusia, jadi hal seperti ini wajar sekali terjadi. Mari kita bahas dampaknya.

Komplotan yang menilai dirinya terlalu baik, biasanya cenderung akan menyalahkan keadaan ketika situasi kurang ideal. “Ah, ini salah rekan kerja saya!” “Industri lagi lesu, makanya susah cari kerjaan!” Dan sederet alasan lainnya. Kenapa? Karena golongan ini menilai dirinya sudah baik, jadi jika ada hal yang kurang baik terjadi, penyebabnya pasti ada di luar sana.

Sedangkan, mereka yang menilai dirinya terlalu rendah biasanya akan menghindari opportunity. Kenapa? Karena mereka merasa tidak capable untuk menyambut opportunity. Biasanya, penyesalan akan muncul mengikuti, seiring opportunity yang sudah pergi.

Apa persamaan dari kedua tipe di atas? Dari paham saya, keduanya tidak punya yang namanya self accountability. Spesies apa lagi self accountability ini?

Sederhananya, self accountability ini adalah karakter di mana kita sebagai manusia menyadari secara utuh bahwa apa pun yang terjadi di dalam tiap fase kehidupan sebagai konsekuensi dari perilaku kita sendiri.

Bangun kesiangan? Bukan salah alarm yang nggak bunyi. Tapi salah kita karena begadang.
Telat ke kantor karena kena macet? Bukan salah lalu lintas. Tapi salah kita karena nggak berangkat lebih awal.

Belum mendapatkan pekerjaan remote? Bukan salah industri atau recruiter. Tapi salah kita karena nggak punya strategi dalam mencari pekerjaan.

Sederhananya, orang yang punya self accountability akan berusaha untuk melakukan refleksi terhadap diri sendiri atas output apa pun yang diterima di dalam kehidupan, termasuk di babak pencarian kerja remote.

Bagaimana cara memiliki self accountability?

  1. Self Discovery
    Semua dimulai dari mengenali diri sendiri. Apa skill yang dimiliki? Apa nilai jual yang kira-kira paling valuable? Apakah kita punya belief dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan? Sulit untuk memiliki self accountability kalau kita belum selesai dengan self discovery.

    Contoh paling sederhana. Jika secara faktual kita punya pengalaman sebagai sales, maka fokus cari opportunity di bidang ini. Jangan toleh kanan-kiri. Kalau pun kita belum berhasil mendapatkan kerja di bidang sales, evaluasi yang harus dilakukan adalah di dalam diri sendiri. Bukan menyalahkan keadaan.

  2. Set Goals & Tracking
    Apa tujuannya? Tujuan besar bisa dipecah menjadi tujuan kecil-kecil yang jauh lebih mudah untuk diawasi. Tentunya, proses tracking-nya juga akan jadi lebih mungkin untuk dilakukan.

    Tujuan utamanya adalah mendapatkan pekerjaan di bidang sales. Maka tujuan kecilnya bisa seperti ini: update resume, research perusahaan minimal 5 setiap minggu, apply pekerjaan minimal 3 setiap minggu, grow networking di LinkedIn, ikut training buat menambah skill, dll.

    Dari situ, kita bisa lihat sudah seberapa jauh kita berproses. Dan lagi-lagi, jika ada hal yang tidak sesuai dengan plan, kita tahu apa yang harus diperbaiki (tentunya dari diri sendiri).

  3. Accountability Partner
    Bagian ini yang menurut saya agak sedikit sulit untuk dilakukan. Meski namanya self accountability, untuk bisa mencapainya kadang kita butuh masukkan dan perspektif dari pihak luar. Di sini accountability partner masuk dan memberikan bantuan. Pihak atau orang yang bisa memberikan penilaian objektif terhadap apa yang sudah kita usahakan.

    Masalahnya, mungkin tidak semua orang bisa menemukan accountability partner di sekitarnya. Buat saya, memperluas network bisa jadi solusi jika accountability partner belum kita temukan. Atau, alternatifnya, cari sumber ilmu yang bisa menggantikan accountability partner; buku, podcast, artikel, dll. Intinya input dari luar yang secara objektif bisa membantu kita melakukan evaluasi diri.

Ada dua harapan saya di penghujung tulisan ini. Pertama, semoga yang membaca tulisan singkat dan sederhana ini menjadi aware dengan konsep self accountability. Kedua, saya berharap akun Bapak Kerja Remote bisa menjadi opsi sebagai accountability partner. Mungkin tidak dalam bentuk personal, tapi sebagai sumber informasi dan ilmu yang bisa menambah perspektif.

Bagi teman-teman yang mungkin sedang mencari resources untuk membantu proses pencarian kerja remote, mungkin beberapa item di sini bisa jadi opsi menarik.

Salam,
Bapak Kerja Remote