Rasanya Berlomba dengan Waktu?

Sebentar, siapa yang bikin ini jadi lomba? Coba mana panitianya?!

Tulisan ini saya tujukan secara khusus untuk teman-teman yang merasa sedang tidak berkawan dengan waktu. Mungkin karena saat ini sedang diburu oleh waktu. Atau, waktu membuat kalian merasa tak lagi pantas untuk suatu tujuan. Mari kita bahas satu per satu.

Waktu itu adalah sebuah konsep yang aneh. Cepat jika dibutuhkan, lama ketika dinantikan. Lagi mengejar deadline? 60 menit terasa seperti 6 menit saja. Menantikan tanggal gajian? 1 hari terasa seperti menunggu bulan menyelesaikan satu rotasi.

Dan entah kenapa, seiring bertambahnya usia, semakin berkurangnya juga makna waktu bagi manusia. Apakah cuma saya yang merasakan hal ini? Entah, tapi dulu saat masih kecil, 60 menit terasa begitu berarti, terutama kalau digunakan untuk main Playstation. Sekarang, ditinggal meleng sedikit, 60 menit sudah berlalu.

Untuk yang sedang diburu oleh waktu, semua pasti terasa begitu cepat. Mungkin karena kondisinya akan semakin berat jika tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Saran saya cuma satu, lakukan yang terbaik. Meletakkan fokus pada waktu justru bisa membuat beban pikiran meningkat. Saya tahu, mungkin time limit kalian semakin sedikit. Pun saya tahu rasa pusing, frustrasi dan khawatir yang hinggap tiap kali time limit itu muncul di pikiran.

Tapi, berlama-lama pusing memikirkan time limit tak akan memberikan kalian waktu tambahan. Jadi, gunakan waktu yang tersisa untuk lakukan hal yang bisa kalian lakukan; berusaha. Gunakan setiap jam yang masih tersisa untuk mencapai apa pun yang menjadi tujuan kalian. Saya yakin, setidaknya akan ada kendaraan yang kalian temukan dalam proses mencapai tujuan.

Berlomba dengan waktu; ada yang sedang berusaha lebih cepat dari waktu, ada pula yang merasa ditinggal oleh waktu. Golongan kedua biasanya didominasi oleh orang-orang yang usianya tak lagi muda dan/atau punya career break di catatan perjalanannya. Kedua hal yang dampaknya sama; bikin seseorang merasa dirinya tak lagi relevan dan punya value dalam konteks pekerjaan.

Untuk kasus yang ini, saya cuma mau mengingatkan kembali bahwa usia yang tak lagi muda adalah bukti bahwa kalian sudah punya bertahun-tahun pengalaman. Kalian bukanlah anak kemarin sore yang masih awam dengan dunia kerja. Kalian ada veteran, berpengalaman di medan perang. Kalian tahu di mana posisi ranjau berada. Salah satu aset yang tidak bisa direplikasi adalah waktu. Pengalaman kerja kalian yang mungkin sudah 10 tahun, tidak bisa disamai oleh orang lain dengan mudah. Setidaknya, butuh 10 tahun untuk mereka yang mau menyamai capaian kalian, bukan?

Career break memang jadi momok yang menyebalkan. Membuat orang merasa dirinya tertinggal jauh dengan perkembangan dan perubahan. Industri dan dunia kerja memang akan terus berkembang dan berubah secara dinamis. Tapi, rasanya apa yang sudah kalian kuasai sebelum career break masih akan tetap relevan. Kok bisa?

Ada knowledge dalam dunia kerja yang jadi kunci utama, bukan tools. Selama kalian punya knowledge-nya, tak akan kalian dilibas oleh waktu dan perubahan. Misalnya; seorang akuntan yang sudah paham knowledge akuntansi selama bertahun-tahun, hanya butuh waktu hitungan minggu untuk belajar tools akuntansi rilisan terbaru. Orang tanpa basic akuntansi, akan kesulitan meski sudah melahap habis tutorial tools akuntansi di YouTube.

Rasanya ini equivalent dengan premis bahwa “Tak semua orang yang punya kamera bisa jadi fotografer.”

Semoga tulisan singkat dan sederhana ini bisa menjadi pencerah atau minimal penghibur bagi kalian yang tengah gundah perihal waktu.

Kembali ke judul tulisan ini, tolong kasih tahu saya, siapa panitia yang tiba-tiba membuat kita harus berlomba dengan waktu. Saya mau complaint! Ini bukan perlombaan. Ini adalah perjalanan, yang pastinya akan berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya.

Salam,
Bapak Kerja Remote