- Bapak Kerja Remote
- Posts
- Pekerja Remote, Juga Manusia
Pekerja Remote, Juga Manusia
Kita semua adalah manusia
Social media tidak selalu menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam realita. Wajar, memang tiap orang punya otoritas penuh untuk menyeleksi apa yang mau ditampilkan di dalam social media. Namanya juga social media.
Social media dan pekerja remote, apa korelasinya? Saya melihat sekarang banyak konten soal kerja remote yang hanya bicara soal enaknya saja. Bisa kerja di rumah (saya termasuk orang yang membicarakan ini), nggak perlu kena macet, gaji USD, dll.
Tapi, perlu digaris bawahi bahwa itu di social media. Kita semua sama-sama tahu bahwa hidup tak seindah social media, kan? Untuk yang sudah pernah merasakan kerja remote, paham bahwa tak semuanya indah. Ada banyak hal yang juga memilukan. Mulai dari ditolak recruiter, kena scam, apa itu work-life-balance, dan lain sebagainya.
Ini bisa jadi hal yang kurang baik, ketika apa yang disajikan di social media ditelan mentah-mentah oleh orang lain. Standar yang terbentuk akan terlalu tinggi, hingga prosesnya dirasa tidak realistis. Melihat ada orang bisa dapat kerja remote dalam waktu singkat, membuat orang yang masih berjuang setelah berminggu-minggu mulai kehilangan semangat.
Tapi, namanya juga social media. Saya pribadi juga berusaha untuk tidak terlalu menjanjikan hal yang indah-indah saja. Ada realita yang tetap saya sematkan di berbagai konten maupun kesempatan lainnya (kelas, konsultasi, dll).
Bagaimana caranya untuk tetap berpijak di realita? Analisa saya, butuh circle senasib yang tak malu untuk mewartakan yang sesungguhnya. Ditolak recruiter? Mari tertawa bersama tentang nasih yang sama ini. Sayangnya, hal ini kurang bisa diakomodir di social media, saya rasa. Karena terlalu lebar ruang interaksinya, dan tidak terlalu personal.
Ini yang menjadi dasar saya ingin membuat community yang lebih personal dan apa adanya. Community yang tak enggan untuk berbagi cerita, tanpa ada yang menghakimi pengalamannya. Setelah merenungi niat ini beberapa saat, saya memilih untuk membuat group Telegram bernama Bapak Kerja Remote (tentu saja).

Member-nya masih sangat sedikit, tapi semoga cukup untuk memberi ruang yang aman dan terasa setara. Percakapannya sederhana, nggak muluk-muluk. Berbagi pengalaman dan pendapat dari perspektif manusia biasa yang kebetulan sedang mencari pekerjaan remote.

Tiap member punya hak untuk berbicara dan berkomentar, sesuai dengan perspektifnya. Saling bantu, tak perlu menunggu bapak-bapak cosplay pengangguran ini muncul dari balik batu.

Semoga group ini bisa menjadi lingkungan yang sehat dan pengingat bahwa pekerja remote juga manusia.
“Pack, cara gabungnya gimana?”
Coba cek di sini yah
Salam,
Bapak Kerja Remote