Memvalidasi Hipotesis

Semua berawal dari hipotesis, berakhir dengan validasi.

Salah satu hal yang saya pelajari dari proses pembuatan skripsi sekian belas tahun lalu adalah, bahwa semua fenomena di dunia yang fana ini erat kaitannya dengan hipotesis. Apa itu sebetulnya hipotesis? Sederhananya, sebuah dugaan terhadap suatu hal.

Misalnya, ketika langit tiba-tiba berubah jadi mendung, kita pasti akan menduga kalau hujan akan segera turun. Dugaannya; kalau mendung akan datang hujan.

Dalam konteks pencarian kerja remote, hipotesis biasanya berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya berasal dari dalam diri sendiri; apakah kita pengalaman dan kualitas kita cukup untuk mendapatkan pekerjaan remote.

“Kayaknya bahasa Inggrisku kurang bagus deh.”
“Ah, resume ku masih biasa banget!”
“Pengalaman kok B aja, ya. Apa bisa dapat kerjaan remote?”

Familiar?

Ketika ada hipotesis, maka akan selalu ada proses validasi. Keduanya terkait cukup erat, seperti gula dan semut. Ada gula, ada semut. Ada hipotesis, ada validasi. Proses untuk membuktikan apakah hipotesis yang sudah ada benar atau tidak.

Mendung, tak selau berakhir dengan hujan. Maka, hipotesis soal mendung dan hujan tidak valid. Ada proponen lainnya yang mempengaruhi terjadinya hujan, meski mendung adalah tanda yang pertama terlihat.

Validasi bisa dilakukan dengan banyak hal, tapi metode dasarnya adalah dengan pembuktian melalui pengalaman empiris. Mengamati mendung, apakah berakhir menjadi hujan atau tidak.

Kembali ke konteks pekerjaan remote, semua hipotesis yang muncul di dalam kepala, yang seringnya datang tanpa diundang, perlu divalidasi. Bisa jadi, hipotesis yang kita percayai atau duga, tidak valid adanya.

Bagaimana caranya? Ada dua cara sederhana yang bisa dilakukan untuk memvalidasi hipotesis;

  1. Cari Pendapat Objektif
    Bisa saja hipotesis kita adalah produk dari pikiran kita sendiri, alias overthinking. Maka, kita perlu pendapat orang lain yang jauh lebih objektif. Cari orang yang bisa memberikan pendapat objektif; keluarga, pasangan, teman dekat, dll.

    Ungkapkan hipotesis kalian, dengarkan apa pendapat orang lain. Kalau kalian merasa bahasa Inggris kurang bagus, siapa tahu di mata orang lain kalian udah cukup fasih kok bahasa Inggrisnya.

  2. Coba Saja Apply Kerjaan
    Metode kedua ini sedikit lebih sulit, tapi tingkat akurasinya juga jauh lebih tinggi. Karena di metode pertama, validasi dilakukan oleh orang biasa, yang mungkin tidak punya alat ukur yang tepat untuk melakukan validasi. Lantas siapa yang punya? Perusahaan.

    Alih-alih selalu menunda mencoba apply kerjaan karena selalu diusik oleh hipotesis di dalam kepala, coba saja apply dulu. Konsepnya sederhana, kalau ternyata kalian bisa masuk ke tahap berikutnya, artinya hipotesis kalian tidak valid. Sampai lolos ke tahap berikutnya, lho!

Tidak ada cara yang lebih baik untuk membuktikan hipotesis selain mencobanya secara langsung. Untuk kalian yang baru memulai proses pencarian kerja remote, ekspektasi soal memvalidasi hipotesis ini bisa jadi milestones pertama yang masuk akal.

Nggak perlu langsung berharap mendapatkan pekerjaan, tapi setidaknya bisa masuk ke tahap selanjutnya (mungkin first interview) untuk menjadi bukti bahwa kalian punya kualitas yang cukup untuk masuk ke dunia kerja remote.

Salam,
Bapak Kerja Remote