- Bapak Kerja Remote
- Posts
- Memaknai Teknologi & Kerja Remote
Memaknai Teknologi & Kerja Remote
Remote work, tidak semata-mata hanya soal tools dan teknologi.
Hal yang paling sering ditanyakan ke-3, “Pack, kalau mau kerja remote harus ngerti tools apa?”
Urutan nomor satu adalah pertanyaan, “Pack, mau kerja remote mulai dari mana?”
Diikuti oleh, “Pack, kapan MU jago lagi?” di nomor dua.

Nomor satu sudah pernah saya jawab, dan cukup sering. Nomor dua, jawabannya susah, terus terang saja. Maka mari kita bahas yang nomor tiga.
Entah kenapa, kok tools ini sering banget ditanyain. Asumsi saya, mungkin karena kerjanya remote, jadi orang berpikir bahwa akan ada teknologi atau tools yang digunakan. Dan, emang iya, betul. Skema kerja remote pasti akan di-support oleh berbagai tools, mulai dari yang teknis, hingga yang basic.
Misalnya, tools buat komunikasi, ada Slack, Teams, Google Chat, dll.
Atau yang teknis buat project management, misalnya; Jira, Trello, Monday, dll.
Tapi, masalahnya, pertanyaan soal tools ini jawabannya akan sangat luas sekali, tergantung role-nya apa. Sedangkan, pengalaman saya cuma di kisaran project manager, account executive atau communication strategist. Jadi, terus terang saya nggak bisa menjawab pertanyaannya dengan sangat akurat.
“Terus ini tulisannya soal apa, pack? Pertanyannya aja nggak bisa dijawab!”
Sabar, warga. Mari resapi lagi kalimat pembuka di tulisan ini.
“Remote work, tidak semata-mata hanya soal tools dan teknologi.
Saya mau bahas itu aja, yah. Karena saya merasa, ada kecenderungan orang untuk berasumsi bahwa kunci kerja remote itu hanya di teknologinya saja.
“Oh, kalau saya bisa pakai JIRA, pasti bisa dapet kerja remote, nih!”
Apakah seperti itu? Tentu tidak ~
Statement di atas rasanya equivalent dengan logika, “Kalau punya kamera, pasti bisa jadi fotografer!”
Jelas, kamera adalah tools buat fotografer. Tapi, menganggap bahwa semua orang yang punya kamera bisa jadi fotografer adalah kengawuran yang hakiki. Kita sama-sama tahu bahwa ada banyak hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang fotografer; pemahaman komposisi visual, konsep kreatif, editing skill, dll, dsb, dst.
Jadi, kamera, yang sifatnya sebagai tools, tidak lantas membuat orang langsung bisa jadi fotografer.
Begitu juga dengan kerja remote. Tools hanyalah tools. Memang penting, tapi bukan satu-satunya. Percayalah, tools itu bisa dipelajari dalam hitungan hari atau minggu. Tapi, skill dan pengalaman, itu yang tidak bisa direplikasi dan diakali.
Jadi, mari fokus ke kualitas skill dan pengalaman, bukan hanya sibuk di level tools terus-terusan.
Dan, ada pepatah yang bilang, “The man behind the gun!”
Alias, gun itu cuma tools. Yang mematikan itu bukan the gun, tapi the man.
Nah, mari kita sama-sama meningkatkan kualitas the man, bukan the gun.
Sekian dulu tulisan kali ini. Entah kenapa, saya tiba-tiba jadi kepengen es degan.
Salam!
Bapak Kerja Remote
Bagi yang tertarik dengan E-Book soal mencari kerja remote, saat ini Bapak Kerja Remote punya E-Book yang mungkin cocok buat kalian!

Harganya berapa? 149K! Tapi, khusus untuk subscriber newsletter ini, bisa dapatkan diskon 49K dengan menggunakan code ini EBOOK49
EBOOK ini cakupannya cukup banyak, dan di bagian akhir EBOOK ada resources yang bisa kalian gunakan juga.
Life-time akses yah. Kalau ada update versi, kalian yang sudah beli, nggak perlu purchase lagi. Otomatis kebagian.
Bagi yang mau check out bisa langsung ke sini yah https://bapakkerjaremote.myr.id/ebook/remote-work-hunt-guidance-ebook