Memahami Dimensi Objektif & Subjektif

Sederhana, tapi banyak yang belum melakukannya dengan baik

Berapa kali kita mendengar, membaca atau bahkan menggunakan kata objektif dan subjektif dalam sebuah kalimat? Saya berani taruhan, kalimatnya pasti erat dengan kata ‘pendapat’.

“Coba cari pendapat yang lebih objektif!”
“Nggak bisa dong kita percaya dengan perspektifmu yang subjektif!”

Kira-kira mungkin begitu contoh kalimatnya.

Sebentar, apa hubungannya antara objektif, subjektif dan kerja remote? Oh tentu ada. Kalau nggak ada hubungannya, buat apa saya menulis artikel ini, kan?

Mari mulai dari hal yang paling sederhana dan mendasar; makna. Apa sebetulnya objektif dan subjektif itu?

Objektif = Disukai atau tidak, hal itu terjadi dan nyata adanya.
Contoh: Gravitasi, pagi dan malam, dan lainnya

Subjektif = Hal yang dipercayai oleh individu berdasarkan preferensinya.
Contoh: Selera makan, selera berpakaian, hobi, dan lainnya.

Dengan kata lain, objektif itu fakta, subjektif itu opini. Semua orang berhak beropini, tapi tak lantas membuat opini itu menjadi fakta.

Lanjut ke hubungannya dengan kerja remote. Ada unsur objektivitas dan subjektivitas yang sangat kental dalam proses pencarian kerja remote. Pengalaman dan pencapaian masuk ke dalam kategori objektif, sedangkan preferensi masuk ke dalam kategori subjektif. Maksudnya bagaimana?

Saya percaya bahwa bekal paling baik dalam mencari pekerjaan remote adalah akumulasi pengalaman dan capaian seseorang. Misalnya, orang ini berpengalaman sebagai graphic designer dengan segala capaiannya. Maka, akan lebih masuk akal kalau dia mencari pekerjaan remote di ranah graphic design juga. Not a rocket science, right?

Lantas, apa fungsi bagian subjektifnya? Tiap-tiap manusia mempunya interest dan keinginannya. Dan saya rasa, dua hal ini adalah bahan bakar yang sangat efisien untuk mendapatkan akselerasi maha cepat. Orang yang tertarik dengan digital marketing, akan rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk belajar soal digital marketing. Akselerasi dan perkembangannya bisa jauh lebih cepat dari kebanyakan orang. Meski saya yakin part subjektif ini mungkin belum didukung oleh pengalaman dan capaian yang mumpuni.

Maka, kawinkanlah keduanya; dimensi objektif dan subjektif.
Secara objektif kuat di graphic design dan secara subjektif ingin mengejar digital marketing. Kenapa tidak? Ada dimensi objektif yang punya peluang lebih besar karena didukung pengalaman dan capaian, plus dimensi subjektif yang akselerasinya jauh lebih cepat. Fokus di kedua area ini secara adil, maka cepat atau lambat, opportunity pasti akan datang juga.

Salam,
Bapak Kerja Remote