- Bapak Kerja Remote
- Posts
- Mau Atau Harus?
Mau Atau Harus?
Ah, bedanya apa?
Selama kurang lebih 4-5 bulan terakhir ini, saya bertemu dengan cukup banyak orang yang sedang mencari pekerjaan remote. Memang, kerja remote lagi populer ya. Background-nya pun beragam, ada yang designer, social media specialist, writer, digital marketer, ibu rumah tangga, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan usia, cukup beragam; 25-50 tahun kira-kira rentangnya.
Selama 4-5 bulan itu juga saya jadi belajar soal perbedaan antara mau dan harus. Ada yang mau kerja remote, ada juga yang harus kerja remote. Bedanya? Di usaha dan kegigihan.
Orang yang mau kerja remote tidak otomatis berjuang mati-matian untuk mendapatkan pekerjaan remote idaman itu. Mungkin karena saat ini masih ada kerjaan lain atau memang secara kondisi cukup ideal alias tidak sedang terhimpit.
Mereka yang ‘harus’ kerja remote, punya kondisi yang biasanya kurang ideal. Misalnya seperti apa? Seorang anak yang harus menjaga orang tuanya di kota asal, sedangkan butuh income yang cukup besar. Kerja on site di perantauan tidak bisa jadi opsi, sedangkan kerja on site di kota asal, UMR cukup rendah. Contoh lainnya; pekerja full time yang mencari tambahan income untuk kebutuhan. Pagi-sore kerja di kantor, sore ke malam akan digunakan untuk mencari pundi-pundi tambahan karena kebutuhan hidup semakin tinggi.
Orang-orang seperti itu, ‘harus’ kerja remote, karena kalau tidak, keadaan semakin memburuk. Orang-orang yang ada di kondisi tidak ideal dan ‘harus’ menggapai sesuatu, biasanya effort-nya luar biasa besar. Belajar terus menerus, tekun menyisihkan waktu untuk merapikan resume, aktif di LinkedIn, upgrade skill, dll. Semua itu dilakukan dengan penuh harapan, suatu hari kerja remote impian akan didapatkan.
Kalau misalnya, ada yang effort untuk memulai pencarian kerja remote masih setengah-setengah; nggak update resume, nggak melebarkan network, nggak manage LinkedIn. Mungkin, orang ini masuk ke kategori yang mau kerja remote, bukan yang ‘harus’ kerja remote. Mungkin kesannya klise, tapi perbedaan effort dan kegigihan yang terus berulang bisa menghasilkan output yang perbedaannya sangat jauh.
Jadi, apakah kalian mau atau harus kerja remote?
Salam,
Bapak Kerja Remote
