Ketenangan Batin dan Fokus: Valuable Currency

Karena katanya, ketenangan batin itu segalanya

Hampir 10 tahun terahkir, ada satu hal yang hingga saat ini masih saya perjuangkan; ketenangan dan fokus saat bekerja. Iya, betul, ketenangan dan fokus.

Ketenangan di sini tidak merujuk pada ketenangan sekitar atau yang sifatnya minim suara. Tapi, justru ketenangan di dalam kepala sendiri. Terus terang, hal paling berat untuk saya pribadi adalah berjuang memastikan fisik, pikiran dan perasaan berada di satu tempat dan waktu yang sama untuk bekerja.

Siapa yang pernah mengalami badan di depan laptop, kepala mikirin biaya SPP anak, batin meronta ingin resign? Alhasil, pekerjaan pasti berjalan optimal. Entah jadi telat submit kerjaan, kualitas kerjaan seadanya atau bahkan nggak bisa kerja sama sekali.

Entah dengan teman-teman yang membaca artikel ini, tapi hal di atas tadi sungguh sering terjadi di saya. Tentu bukannya saya tidak berusaha untuk melawan dan mencoba untuk mencari solusinya. Masalahnya, badan, pikiran dan batin itu bukan hal sederhana. Bisa saja, badan dan pikiran sudah siap kerja, tapi batin masih enggan karena satu dan lain hal. Atau pikiran dan batin sudah selaras, tapi badan rasanya seperti habis di-tackle Gennaro Gattuso.

Saya sudah pernah mencoba menggunakan berbagai tip dan trik berlabel produktivitas dari berbagai sumber. Cukup membantu, mulai dari time management, time blocking, delegation, dll. Tapi, saya rasa masih ada solusi mendalam yang perlu saya eksplorasi lagi.

Sejak tahun 2021, saya cukup tertarik dengan meditasi, sebuah aktivitas yang dulu tidak pernah saya lirik sama sekali. Aktivitas yang terlihat tidak melakukan apa-apa, padahal kalau dijalani rasanya sungguh berat sekali. Berjuang untuk menyeleraskan badan, pikiran dan batin itu ternyata tidak mudah.

Dalam perjalanan mencari cara untuk memastikan saya bisa menjaga fokus saat bekerja, saya menemukan buku karya Marcus Aurelius berjudul Meditation. Buku ini tentu bukan buku rilisan tahun 2000-an, jadi mungkin tidak terlalu populer di kalangan muda-mudi. Kalau penasaran siapa Marcus Aurelius ini, coba Googling dengan keyword “Marcus Aurelius”, semua informasi akan kalian dapatkan.

Di buku Meditation ini, Marcus Aurelius mengangkat filosofi stoic sebagai titik tumpu tulisannya. Konsep soal stoic mungkin akan saya tulis terpisah di artikel lainnya. Saya coba jabarkan beberapa poin dari buku ini yang bisa saya terapkan untuk menjaga fokus saat bekerja.

MINIM DISTRAKSI
Oke, ini kesannya klise sekali, pasti. Tapi, alih-alih hanya bicara soal distraksi yang sifatnya dari luar, justru distraksi dari dalam yang perlu dijinakkan. Pikiran liar tentang hal lain selain pekerjaan perlu diredam sesaat. Caranya? Sebelum memulai satu pekerjaan, berhenti sejenak, tarik nafas, tanamkan ke pikiran. “Saya mau fokus untuk mengerjakan hal ini!”, hembuskan nafas perlahan, baru mulai kerja. 

Mengkondisikan badan, pikiran dan batin untuk satu tujuan bisa dilakukan dengan mudah dan cukup singkat seperti yang dijelaskan di atas. Sayangnya, banyak orang yang tidak melakukan hal ini. Entah karena terburu-buru atau karena memang tidak tahu hal ini perlu dilakukan.

MAKNAI PEKERJAAN
Banyak orang, termasuk saya, yang melihat pekerjaan sebagai kewajiban atau perintah semata. Padahal, kalau dicerna lagi, pekerjaan yang kita lakukan itu punya makna. Entah tentang bagaimana pekerjaan ini berdampak untuk orang lain atau bisa juga karena pekerjaan ini punya nilai sentimentil untuk kita sendiri. 

Misalnya, kita sering lupa bahwa pekerjaan sederhana yang kita lakukan itu sebetulnya berkaitan dengan orang lain. Kalau pekerjaan kita nggak beres, orang lain juga akan terhambat pekerjaannya, yang mungkin bisa mempengaruhi performance perusahaan, yang bisa saja berujung pada lay off karena company nggak perform. Pekerjaan sekecil apa pun, punya dampak.

Kalau dari spektrum sentimentil, kadang pekerjaan memang bersifat personal atau kita memaknai pekerjaan atas preferensi pribadi. Misalnya, saya suka ngajar, maka pekerjaan mengajar akan saya lakukan dengan senang hati. Cukup banyak layer yang perlu dipertimbangkan ketika kita bicara soal nilai sentimentil saat memaknai pekerjaan.

FOKUS KE PROSES
Saya sering merasa tertekan saat melakukan pekerjaan karena langsung berpikir soal hasil. Bahkan layar laptop masih kosong, saya sudah kepikiran soal hasil. “Duh, nanti hasilnya gimana ya? Kalau jelek gimana?” 

Alhasil, proses kerja menjadi sangat mencekam, pikiran melayang ke hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan. Dalam paham stoic, ada konsep bernama lingkar kendali; mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak bisa. Hasil, masuk ke dalam hal yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Kenapa? Karena ada banyak elemen dari luar yang bisa mempengaruhi hasil, misalnya; penilaian manajer atau bos kita, tentu itu nggak bisa kita kontrol. Apa yang bisa dikontrol? Proses! Maka, fokus saja pada proses, nikmati tiap langkahnya, pastikan semua hal dilakukan dengan baik.

Hal ini mengurangi rasa cemas berlebih dan membuat kita punya lebih banyak energi untuk disalurkan ke hal yang lebih krusial; proses kerja.

Tentu, ini adalah area-area yang saya pribadi masih terus latih dan usahakan jadi lebih baik. Karena, namanya manusia, makhluk complex yang sangat fluktuatif. Nggak mungkin terbebas dari hal-hal yang kurang ideal. Ditambah berbagai layer kehidupan yang pasti akan mempengaruhi proses kerja; kepikiran SPP anak, istri lagi sakit, rumah bocor, dll.

Yah, lebih baik terus berusaha meski kadang jatuh juga, daripada hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun meski sudah tahu ada hal yang kurang baik sedang terjadi.