Kenapa Harga BMW Tua Masih Mahal?

Sebuah refleksi tentang umur dan value

Sejak saya masih muda belia, saya selalu bermimpi untuk punya mobil BMW E46. Mungkin karena sejak kecil saya cukup akrab dengan game balapan yang selalu menyajikan mobil sedan sebagai daya tariknya.

Buat saya, BMW E46 punya daya tarik sendiri yang selalu berhasil bikin saya terus bermimpi untuk memiliki mobil ini.

Tenang, ini bukan tulisan soal otomotif. Saya bukan Fitra Eri, Ridwan Hanif atau Om Mobi.

Sialnya, meski tergolong mobil tua, BMW E46 ini harganya masih bikin saya maju mundur untuk memberi proposal ke Menteri Keuangan (re: istri). Bagi yang awam soal mobil, BMW E46 ini kisaran harganya di angka 80-100 juta, tergantung kondisi. Dan, mobil ini usianya sudah sekitar 20 tahun lebih. Pasalnya BMW E46 ini rilisan tahun 90 akhir hingga 2000 awal.

Bombastis bukan? Mobil berusia 20 tahun harganya masih cukup tinggi.

Hal ini membuat saya berpikir, kalau mobil tua saja masih tinggi value-nya, lantas kenapa kita masih sering ragu soal usia ketika mencoba mencari kerja remote?

Banyak sekali orang yang bilang ke saya, “Saya umurnya udah nggak muda, bisa nggak ya dapet kerja remote?

Saya rasa, kuncinya bukan di usia, tapi value. Sama seperti BMW E46, meski usianya sudah tak lagi muda, tapi karena value-nya masih tinggi di mata orang, harganya tinggi. Maka, sebagai pekerja atau pencari kerja, nggak masalah usia sudah berumur, selama ada value-nya. Apa sih value sebagai seorang pekerja? Skill, experience, knowledge.

Kalau punya skill, experience, knowledge, harusnya usia tak jadi masalah. Saya paham, mungkin mindset ini muncul karena rata-rata persyaratan kerja di negara kita ini selalu berkaitan dengan usia. Tapi, kalian mau mengincar kerja remote dari luar negeri kan? Maka lupakanlah standar yang berlaku di Indonesia.

Ingat pepatah bijak, “Tua-tua keladi. Makin tua, makin jadi!”

Salam,
Bapak Kerja Remote yang usianya hampir sweet seventeen yang kedua.