I Hate Monday!

Begitu kata orang-orang, termasuk saya.

Bagaimana, apakah di Minggu petang ini badan udah lemes duluan mengingat beberapa jam lagi Senin sudah datang?

Tenang, kalian nggak sendirian. Saya juga begitu kok.

“Lho, kerja remote kok masih I hate Monday?”

Teman-teman yang budiman, masih ada kata kerja di kerja remote. Jadi, wajar dong kalau saya kadang merasa enggan melihat yang namanya hari Senin. Kecuali, kalau judulnya adalah nganggur remote. Mungkin Senin akan saya lihat sebagai hari yang biasa saja ~

Tulisan ini saya buat sebagai pengingat, untuk meletakkan ekspektasi kalian soal kerja remote kembali ke bumi. Saya paham di luar sana banyak sekali konten atau narasi yang mengabarkan nikmatnya kerja remote. Bisa kerja dari rumah, dari coffee shop, dari mana pun. Nggak perlu commute, nggak kena macet, dan lain sebagainya. Memang benar. Enak kok!

Tapi, namanya kerja, ya tetap kerja. Ini bukan liburan. Ada tanggung jawab, stress, dan pasti rasa bosan dalam pekerjaan. Kerja remote tetaplah kerja. Jadi, kalau kalian punya ekspektasi setinggi langit soal kerja remote, coba kalibrasi ulang. Kerja remote tidak seindah yang dibicarakan banyak orang. Kerja remote tetap punya potensi untuk memunculkan pandangan “I hate Monday!”

Sekali lagi, kalau kalian mengincar kerja remote karena mengira kerja remote itu bebas stress, indah dan selalu penuh kedamaian, maka dengan berat hati saya harus patahkan imaji itu.

Mari kita nantikan bersama-sama datangnya hari Senin. Tak peduli kerja remote, di kantor, atau bahkan di bulan sekali pun. Senin, tetap jadi momok yang bikin perut tiba-tiba mules.

Salam,
Bapak Kerja Remote