AI, AI, AI!

Di mana-mana semua orang menyebut AI!

Saya bukan tipe orang yang canggihnya bukan main. Tapi saya nggak se-gaptek itu untuk nggak tahu yang namanya AI. Terus terang, beberapa waktu belakangan ini, saya cukup sering menggunakan generative AI dalam kehidupan sehari-hari; baik untuk pekerjaan di kantor atau untuk riset terkait akun Bapak Kerja Remote.

Diskursus yang sedang marak terjadi tentang AI ini adalah; apakah AI akan menggantikan manusia sebagai tenaga kerja? Awalnya saya cukup tertarik dengan tema ini, tapi lama-lama mulai jengah bacanya.

AI diasosiasikan sebagai ancaman untuk konteks lapangan kerja, karena katanya bisa menggantikan manusia. Saya sepakat, untuk level tertentu. Mungkin, untuk beberapa pekerjaan yang sifatnya sederhana dan berulang (recurring), AI bisa jadi sebuah opsi alternatif. Tapi, kan nggak semua kerjaan sifatnya sederhana dan berulang ~

Rasanya, daripada terlalu banyak mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran untuk khawatir dan berdabat soal isu ini, lebih baik kita fokus untuk upgrade kualitas diri. Asah lagi skill, lengkapi knowledge, jadi A player di bidang masing-masing.

Perkara apakah AI akan menggantikan manusia itu urusan belakangan. Hal paling penting justru untuk fokus menaikkan positioning sebagai pekerja profesional. Kalau misalnya, benar AI akan menggantikan pekerja, maka kita sudah masuk di level yang irreplaceable dengan semua kemampuan kita. Kalau ternyata AI tidak/belum menggantikan pekerja, kita tetap naik value-nya karena sudah fokus upgrade diri. Jadi, nggak ada ruginya sama sekali kan?

Ibaratnya, ini adalah investasi yang imbal hasilnya-harusnya-akan selalu positif. Selama kita bersungguh-sungguh melakukan effort untuk menjadi A Player.

Plot twist; bagaimana kalau ternyata tulisan ini adalah produk/output dari AI?
Selamat menebak 🙂 

Salam,
Bapak Kerja Remote